Di sini kubenamkan rasa rindu. Sedemikian kuat hingga aku tersungkur pada kesedihan malam dan pagi. Jawab pertanyaanku, kamerad. Pernahkan kau merasa aku menghianatimu? pernahkah kau merasa sendirian hingga tulang rusukmu belingsatan?
Di antara deras hujan, air mataku tumpah merayap mengalir menyusuri parit-parit, entah ke laut mana dia bermuara.Aku hanya tahu satu hal: aku tak pernah benar benar meninggalkanmu. Sebab air mata ini akan mengalir ke laut. Mungkin laut di samping apartemenmu. Atau laut di depan kampung nelayan yang kau beri harapan hidup di masa depan. Air mata yang cengeng itu akan menguap menjadi awan dan mungkin jatuh di kepalamu saat kau menyusuri trotoar. Dia akan melekat di bajumu sampai kau membersihkannya di sebuah mesin cuci. Tapi dia masih berbutir..kali ini menyerap ke tanah merembes di pori pori akar gandum, yang akan segera kau santap pada sebuah pagi yang sibuk.
Jawab pertanyaanku, sayang. Pernahkah aku meminta kau di sampingku saat aku terbaring sakit menahan tembusan selang infus di urat lengan kiriku? atau pada saat hidupku terancam senapan?
Aku cuma tahu satu hal: di antara kepicikan penguasa, ada rasa hangat yang kuhantarkan untukmu. Mengapa kau takutkan sesuatu yang menyembul dari perasaan cinta? Sedemikian seram kah sesuatu itu ketimbang para penghisap tenaga manusia.
Hari ini, sebelas tahun lalu.. ratusan orang terluka, perempuan diperkosa, rakyat berbaris menuntut balas. Kobaran api menyala di mana-mana. Hari ini para penghianat itu, muncul di televisi, di koran koran, di perkampungan miskin, di mana-mana..meminta kesetiaan dari manusia-manusia yang sudah tak memiliki hidup. Sebab, hidup itu sudah berulangkali mereka rampas..berulangkali..
Hari ini..aku termangu menatap rindu, merasakan gemerutuk di tulang rusuk…
21 Mei 2009
Untuk TS…