Feeds:
Posts
Comments

Di sini kubenamkan rasa rindu. Sedemikian kuat hingga aku tersungkur pada kesedihan malam dan pagi. Jawab pertanyaanku, kamerad. Pernahkan kau merasa aku menghianatimu? pernahkah kau merasa sendirian hingga tulang rusukmu belingsatan?

Di antara deras hujan, air mataku tumpah merayap mengalir menyusuri parit-parit, entah ke laut mana dia bermuara.Aku hanya tahu satu hal: aku tak pernah benar benar meninggalkanmu. Sebab air mata ini akan mengalir ke laut. Mungkin laut di samping apartemenmu. Atau laut di depan kampung nelayan yang kau beri harapan hidup di masa depan. Air mata yang cengeng itu akan menguap menjadi awan dan mungkin jatuh di kepalamu saat kau menyusuri trotoar. Dia akan melekat di bajumu sampai kau membersihkannya di sebuah mesin cuci. Tapi dia masih berbutir..kali ini menyerap ke tanah merembes di pori pori akar gandum, yang akan segera kau santap pada sebuah pagi yang sibuk.

Jawab pertanyaanku, sayang. Pernahkah aku meminta kau di sampingku saat aku terbaring sakit menahan tembusan selang infus di urat lengan kiriku? atau pada saat hidupku terancam senapan?
Aku cuma tahu satu hal: di antara kepicikan penguasa, ada rasa hangat yang kuhantarkan untukmu. Mengapa kau takutkan sesuatu yang menyembul dari perasaan cinta? Sedemikian seram kah sesuatu itu ketimbang para penghisap tenaga manusia.

Hari ini, sebelas tahun lalu.. ratusan orang terluka, perempuan diperkosa, rakyat berbaris menuntut balas. Kobaran api menyala di mana-mana. Hari ini para penghianat itu, muncul di televisi, di koran koran, di perkampungan miskin, di mana-mana..meminta kesetiaan dari manusia-manusia yang sudah tak memiliki hidup. Sebab, hidup itu sudah berulangkali mereka rampas..berulangkali..

Hari ini..aku termangu menatap rindu, merasakan gemerutuk di tulang rusuk…

21 Mei 2009
Untuk TS…

Aku membayangkan engkau seperti hujan yang tak bermusim. Kadang engkau datang pada saat panas, tapi engkau juga sering membiarkan aku keronta dilanda musim kemarau.

Terlalu sudah, rasa sepi ini menghantarku pada sebuah keinginan bersamamu. Aku ingin segera pulang seperti saat pertama kau menawariku sebuah rumah untuk aku pulang.

Aku tahu, tak usah kau ulangi lagi ucapanmu. Bersamamu adalah bayangan, bersamamu adalah mimpi, sebab kau milik bumi kelak akan kembali ke bumi.

Kelak aku akan mengarang cerita tentang pertemuan kita yang yang tak pernah ada. Aku akan menyusun kalimat dari kekosongan.
Semuanya akan berubah kecuali huruf huruf dalam dinding jiwaku yang pernah merangkai namamu.

Kita akan bertemu pada sesuatu yang kita cita citakan, meski pada saat itu aku telah menjadi tanah..

untuk TS
19 april 2009

Dua hari di ujung tahun. Kamu telanjangi kesunyianku yang menyayat penuh lebam. Di tanahmu yang bersalju kau janjikan matahari. Sementara atap rumahku diguyur hujan tropis. Dingin, mencekam. Kita sama-sama buta, tapi kita tahu kita sama-sama ada.

Denting jam merangkak payah. Tak sabar aku menunggu tahun habis setengah. Agar aku bisa menggenggam salju di hatimu dalam desiran angin kemarau yang menyeok di atap rumah. Kelak jika ada nyawa dan alam menghendaki, kita akan berjumpa pada suatu pagi yang hangat sambil melihat senyum anak-anak yang tulus, kota yang ramah, desa yang kenyang bebas dari racun dan senapan.

Agar hidup kita menjadi kehidupan

Jangan dulu berpaling, hingga tahun habis setengah..

Ultimus, 12 Januari 2009.

Older Posts »