Mencari Bima

Oleh Mulyani Hasan

Seorang anak muda yang cerdas dan kritis dihilangkan di masa Soeharto. 24 pastor merayakan misa untuk mendoakannya. Sampai hari ini belum ada kejelasan tentang nasibnya.

 

DIA masih merenung di pintu belakang rumah sampai tengah malam itu. Duduknya menghadap langit yang baru ditinggal hujan. Setiap malam begitu. Jumlah rokok yang dihisapnya yang tak terhitung lagi.Lelaki ini bernama Dionyus Utomo Rahardjo dan akrab dipanggil Tomo atau Pak Tomo oleh orang yang mengenalnya. Dia ayah Petrus Bima Anugerah, aktivis yang hilang di tahun 1998. Dulu  Bima sering pulang lewat pintu belakang pada tengah malam. Dia berjanji kepada orang tuanya akan pulang di perayaan Paskah, April 1998, namun yang datang malah berita hilangnya.

Pada 1997  Bima pamit dari rumah untuk minta restu pindah kuliah ke Jakarta. Sebelum itu dia kuliah di Universitas Erlangga, Surabaya. Diskusi panjang pun terjadi antara ayah, ibu, dan anak selama empat jam.

“Nanti Ibu tahu sendiri apa yang kuperjuangkan,” ujar Bima.Misiati memang tak begitu paham soal aktivitas anaknya. Lain hal dengan Tomo yang sudah mengetahui aktivitas politik anaknya sejak awal. Ini dimulai dari keterlibatan Bima di SMID (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi), sebuah organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang gencar melawan rezim totaliter Soeharto.SMID dideklarasikan di Jakarta pada Agustus 1994. Program utamanya adalah pencabutan Dwi Fungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik ) dan pencabutan paket 5 Undang-Undang Politik 1985 yang membungkam kebebasan orang untuk berpendapat dan berorganisasi.“Justru itu kami mengkhawatirkanmu,” sahut Tomo.“Berapa banyak kawanmu?” tanya Tomo.

“Kurang lebih 35 orang,” jawab Bima.

“Kamu itu akan membentur tembok yang kerangkanya terbuat dari beton,” kata Tomo, mengingatkan anaknya. Dia menggambarkan rezim Orde Baru seperti tembok tebal yang disanggah tulang-tulang beton.

Tapi Bima malah menjawab “Paling tidak aku yang menabraknya, Pak.”

Sunyi sejenak…

Tomo kehabisan alasan untuk mengubah pendirian anaknya.

“Pergilah, berangkatlah asal jangan imanmu goyah. Kalau kamu tertangkap di Jakarta, paling tidak namamu melegenda,” ujar Tomo.

Bima pergi dibekali uang Rp 100 ribu.  Dia kemudian mendaftar ke Sekolah Tinggi Filsafat Drikarya, Jakarta. Suratnya terakhir kepada ibunya hanya memastikan bahwa dia baik-baik saja.

“Ibu tahu kan gedung-gedung mewah yang kita lihat waktu ke Jakarta. Tapi Ibu tahu gak, di balik gedung itu orang-orang tidak makan, anak-anak sekolah tak bersepatu. Di gedung tinggi orangnya cuma sedikit tapi di balik gedung itu banyak sekali orang yang bergelimpangan. Itulah yang kuperjuangkan, Bu,” ujar Bima dalam suratnya.

Bima rajin menulis surat untuk Ibunya. Namun sayang, surat-surat itu baru sampai ke tangan Misiati belakangan, setelah Bima hilang. Misiati sedih saat membaca surat Bima yang berisi permintaan dimasakkan sayur lodeh kesukaannya jika pulang nanti. Sebab, selama di Jakarta, dia tak sempat membuat santan untuk memasak sayur tersebut.

“Bima masak sendiri dengan kawan-kawan, tapi kalau mau buat santan, kami tak punya waktu, Bu,” tulisnya dalam surat itu.

Bima saat itu tinggal dengan tiga kawan lainnya dalam sebuah kamar di rumah susun Klender. Mereka adalah Mugiyanto, Nezar Patria dan Aan Rusdianto. Kawan-kawannya memanggil Bima dengan sebutan “Bimpet” alias Bima Petrus.

“Di Jakarta, ada beberapa titik persembunyian yang kami sebut save house dan setiap kader partai tak ada yang mengetahui  tempat satu sama lain tinggal, kecuali yang ditempatkan dalam satu rumah. Bahkan nomor telepon pun tidak. Nah, untuk komunikasi antar tim itu, semua tersentral di Bimpet. Ini semua strategi gerakan untuk keamanan. Jadi, Bimpet itu memang orang yang paling banyak tahu,” ujar Mugiyanto, ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang atau IKOHI.  Saya menemuinya di kantor IKOHI, di kawasan Menteng Jakarta Pusat.

Mugi, panggilan akrabnya, bersama Bima selama tiga bulan terakhir sebelum dia hilang. Tak ada yang tahu di mana dan kapan Bima diambil.

“Dia memang sudah jadi target penangkapan. Selain itu, organisasi sudah kotor,” kata Mugi.

Mugi pertama kali bertemu dengan Bima di tahun 1995 di Yogyakarta. Mugi punya kesan baik terhadap Bima.

“Bimpet pribadi yang berani, teguh dan disiplin dalam usaha merealisasikan idealismenya. Aku yakin betul karena semua itulah dia tidak dikembalikan oleh penculiknya.”

Dalam rentang waktu itu rumah  Tomo disatroni aparat. Ada yang mengaku dari kepolisian, tapi ada juga yang tak berseragam. Melacak rumah Tomo memang gampang. Rumahnya berada di tengah kota Malang, tak jauh dari stasiun kereta api. Di tahun 1997 Tomo menjabat ketua Rukun Tetangga dan ini juga memudahkan pelacakan.

Sebelum itu, di tahun 1996 PRD dinyatakan sebagai dalang massal yang dipicu penyerbuan sejumlah aparat berpakaian preman ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia  di Jakarta. Dua puluh enam orang hilang dan banyak yang luka-luka akibat peristiwa itu. Sebagai buntutnya, Ketua PRD Budiman Sudjatmiko dan sejumlah pengurus partai dijebloskan ke penjara. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Peristiwa 27 Juli.

Suatu ketika dua pria  bertamu ke rumah Tomo.

“Di mana Bima?” tanya salah seorang dari mereka.

“Gak tahu, mungkin dia pulang ke Jakarta,” jawab Misiati.

“Lho kok ibunya sendiri gak tau?” kata orang itu dengan nada suara meninggi, sambil menggebrak meja.

Misiati terus didesak. Sementara Tomo sedang tak di rumah.

“Saya bisa saja memberi alamat palsu, biar cepat urusan, biar Anda gak menguber saya,” timpal Tomo yang baru saja tiba di rumah sepulang kerja, ia bahkan belum sempat membuka sepatu ketika mendapati tamu-tamu tak dikenal itu.

Orang-orang itu lantas bertanya siapa saja sanak saudara Tomo dan di mana mereka tinggal. Ternyata mereka benar-benar melacaknya. Keluarga di Blitar dan Lumajang didatangi. Mereka mengaku rekan kerja Bima dan menanyakan keberadaan Bima.

Mendadak para pedagang keliling juga makin banyak lewat di depan rumah Tomo. Mereka itu bagian dari jaringan intelijen yang sedang mengawasi keluarganya. Tetangga-tetangga sekitar rumah mulai beranggapan negatif tentang Bima. Penjahat, pemberontak dan macam-macam tuduhan. Tapi mental Tomo dan keluarga sama sekali tak melemah.

“Mendidik anak itu yang benar!” kata teman kerja  Tomo, suatu hari ketika  Tomo masih bekerja di Rumah Sakit Jiwa Lawang

“Saya yakin anak saya itu benar,” ujar Misiati yang tegar dengan segala keyakinannya, meski seluruh sanak saudaranya bersikap sama seperti orang-orang kebanyakan.

Mugi tak tahu persis kapan Bima hilang. Saat dia diculik dan disekap di suatu tempat, dia hanya mendengar teriakan Nezar Patria dan Aan Rusdianto, kawan serumahnya. Meski matanya tertutup, teriakan itu bisa dikenalinya.

Berkali-kali Mugi disetrum dan dipukuli. Para penculik itu banyak bertanya soal struktur PRD dan kasus peledakan bom di rumah susun Tanah Tinggi. Mereka juga bicara soal referendum Timor Timur dan Aceh. Mengapa PRD mendukung referendum di dua wilayah perang itu? PRD bahkan melakukan aksi lompat pagar kedutaan Belanda dan bersama para pemuda Timor Timur untuk mengkampanyekan referendum serta mendukung permintaan suaka politik bagi mereka yang diburu aparat .

“Yang paling mengerikan saat di tempat penyiksaan adalah ketika mendengar  suara teriakan kesakitan kawan sendiri,” kisah Mugi.

PETRUS Bima Anugerah lahir di Malang, 24 September 1973. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Namanya diilhami sebuah sandiwara radio yang sering didengarkan ibunya saat hamil sambil menggoreng biji kopi, ketika menjelang senja.

Bima adalah tokoh Pandawa Lima yang jujur, berani dan gagah, dan berjuang untuk membela orang lemah. Tapi gurunya malah ingin menghilangkan muridnya. Bima diperintahnya masuk ke dalam dasar laut untuk menemui Dewa Ruci. Bima murid yang taat kepada sang guru. Dia menuruti perintah sang guru yang jahat itu. Tapi dia malah selamat dan memperoleh kesaktian.

Sedangkan nama tengah “Petrus,” diambil dari nama salah seorang murid Yesus dalam Injil. Petrus digambarkan berwatak keras seperti batu karang. Bima dan Petrus adalah anugerah. Jadilah sosok manusia baru itu dinamai Bima Petrus Anugerah.

Bima kecil adalah anak periang yang sabar. Dia menerima setiap keadaan. Tubuhnya gemuk menggemaskan.

“Kalau dia sudah pakai baju pramuka dan berdasi, duhh gagah sekali,” kenang ibunya seraya menggelengkan kepala.

Bima sering memimpin upacara bendera di sekolahnya, di mana Misiati juga mengajar di sekolah dasar itu. Dia sering jadi juara kelas. Meski ibunya guru di sekolahnya, Bima tahu betul bagaimana menempatkan dirinya sebagai murid. Dia tak manja di sekolah, tidak seperti di rumahnya dia selalu disuapi makan dan tidur bersama sang ibu.

Anak itu pernah menangis dan mengadu kepada bapaknya. Dia sering diganggu oleh kawan sekolahnya.

“Kamu harus berani, jangan menangis!” ujar Tomo.

Keesokan hari Maman si pengganggu itu ditumpahi ember berisi pasir di kepalanya. Tomo tertawa geli menceritakan peristiwa tersebut kepada saya.

Bima tumbuh dalam lingkungan religius. Dia rajin ke gereja, bahkan pernah menulis sebuah doa dan minta kepada ibunya untuk membacakan doa itu ketika orang-orang menghadiri misa di gereja. Demikian pula dalam surat-suratnya, dia sering menyebutkan bahwa apa yang dia lakukan sesuai dengan ajaran Katolik yang mengharuskan keberpihakan kepada rakyat teraniaya.

Namun, Bima remaja tak banyak bicara. Menurut Misiati, mungkin kesadaran politiknya tumbuh sejak dia masuk Sekolah Menengah Umum Dempo, sebuah sekolah favorit di Malang. Murid-murid di sekolah ini kebanyakan anak-anak orang berada. Sementara Bima hanya anak pegawai negeri yang hidup sederhana dan pas-pasan. Ketimpangan itu jelas-jelas terlihat dari gaya hidup dan penampilan para murid. Namun Bima tak menuntut apa-apa. Dia menerima keadaan keluarganya tanpa rasa rendah diri.

Cara berpikirnya semakin matang ketika dia masuk perguruan tinggi.

“Bima itu tak punya buku, entah dia baca di mana,” kata Tomo.

Setiap kali pulang ke rumah, dia selalu bercerita soal politik. Kadang dia mengajak kawan-kawannya ke rumah. Di antara mereka itu adalah Herman Hendrawan dan Rahardja Waluyo Jati. Keduanya juga aktivis PRD. Herman Hendrawan senasib dengan Bima, diculik dan tak kembali sampai hari ini.

“Kami sering diskusi soal politik di rumah ini,” kenang  Tomo.

“Kuliah itu tak harus di bangku kuliah. Saya bisa belajar dari buruh, petani dan orang-orang di perkampungan kumuh.” Suatu hari Bima berkata kepada bapaknya.

Bima memang sadar betul apa yang dilakukannya mengandung risiko besar. Pada 1997, sebelum dia diculik, dia pernah mendekam 60 hari di penjara karena terlibat pengorganisasian massa Megawati Soekarno dan partai Islam, Partai Persatuan Pembangunan. Ketika itu massa pendukung Megawati yang kecewa pada pemerintah Soeharto menemukan platform perjuangan yang sama dengan massa Partai Persatuan Pembangunan (yang dikenal dengan julukan massa “Bintang”, diambil dari lambang partai tersebut) yang juga kecewa pada pemerintah. PRD ingin menyatukan mereka yang sama-sama diperlakukan sewenang-wenang ini dalam sebuah front perjuangan bersama, yang kemudian jadi populer dengan sebutan Mega-Bintang-Rakyat.

Tak ada keluarganya yang tahu selama Bima di penjara. Orang tuanya baru mengetahui kejadian itu setelah dia bebas.

Pada Senin, 13 April 1998, beberapa saat setelah Paskah,  Tomo dan Misiati melaporkan kehilangan Bima kepada Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KONTRAS. Di tengah cemoohan banyak orang, tak sedikit juga pihak yang simpati kepada mereka.

Mei 1998, sehari sebelum Soeharto mundur dari kekuasaannya,  Tomo dan Misiati diundang menghadiri misa di Katedral Surabaya. Rabu itu tanggal 20 Mei 1998, massa meluap ke jalan-jalan, mereka menuntut Soeharto mundur. Ini terjadi di berbagai kota, terutama di Jakarta.

Misa itu tak biasanya. Ada 24 romo (pastor dalam istilah Jawa) dan 36 pelayan pastor hadir. Biasanya misa cukup dihadiri seorang romo.

“Aku tak mengerti. Ternyata misa itu khusus untuk Bima,” kata Misiati.

“Padahal di gereja tempat saya ibadah, tak pernah mempertanyakan,” lanjutnya.

Doa Bapak Kami, karya Bima, dibacakan dalam misa itu.“KAMI akan menunggunya pulang sampai kapan pun. Suatu saat Tuhan akan membuka jalan,” ujar Genoveva Misiati, dengan air mata berlinang.Sementara itu Tomo masih memeluk lututnya, duduk dekat pintu belakang. Entah berapa batang rokok kretek yang sudah terbakar.

“Saya tak pernah merasa berat mencari anak saya, meski hampir sepuluh tahun,” katanya.

“Jalan apalagi yang harus kami tempuh. Saya sudah puas dengan usaha kami dan kawan-kawan IKOHI, KONTRAS,  dan wartawan,” katanya, lagi.

Misiati masih tersendat. Dia menganggukkan kepala, menyetujui ucapan suaminya.

“Selama empat tahun saya puasa setiap Senin dan Kamis, tapi Bima belum kembali juga,” ujarnya. Ujung ucapannya seakan mengendap di tenggorokan.

“Dia masih ada,” tegasnya.****) dimuat di Sindikasi Pantau (www.pantau.or.id)

12 Comments (+add yours?)

  1. Ida Nasim MH
    Dec 19, 2007 @ 12:33:04

    Sore ini, 19 Desember 2007. Saya lagi iseng untuk mencari data rekan-rekan yang diculik pada tahun 1998 di goegle. Sampailah saya pada artikel yang ditulis dengan baik oleh Mulyani Hasan ini. Tiba-tiba perut jadi rasa sakit dan terasa mual. Inilah kebiasaan saya kalau lagi cemas dan tegang.

    Saya menjadi cemas dan tegang karena tulisan ini “menstimulir” ingatanku ketika saat-saat terakhir bersama Bimpet.

    Ketika Aan, Mugi dan Nezar di culik dari Rusun Klender. Besoknya kami semua pada lemas. Bimpet mengumpulkan kami, beberapa jajaran kurirnya, untuk menginformasikan soal tidak responnya Aan, Mugi dan Nezar via pager. Dia curiga pasti terjadi sesuatu dengan mereka. Dan pada akhirnya kecurigaan itu terbukti benar. Melalui pemberitaan media, kami tahu bahwa rekan-rekan kami telah diculik oleh aparat KODIM.

    Mulyani, tulisanmu sangat bagus dan detail. Saya suka pada bagian kenangan ibu Misiati pada anaknya Bimpet.
    Teruslah berkarya.

    Salam,
    Fajar-Tebet

    Reply

  2. mulyanihasan
    Dec 21, 2007 @ 07:39:36

    Terimaksih,bung Fajar

    Wuah,,,menarik andai saja kita bisa ngobrol sambil ngopi dan bercerita tentang masa lalumu.

    Saya tertarik dengan kasus itu.

    terimaksih..

    Reply

  3. Roy thaniago
    Dec 24, 2007 @ 05:55:45

    Membaca narasi ini sampai habis, jadi terpikir dua kali, bahkan berkali-kali untuk tetap berpegang pada idealisme melawan tirani dan memekikkan kata merdeka, sambil memikirkan ribuan bahkan jutaan kaum miskin di negeri ini.

    Namun narasi ini justru tak mengajak kita untuk menjadi pengecut. Hanya ada satu cara: LAWAN!

    Selamat Mba Mulayani, telah merangkai potongan2 kisah yg tercecer karena dimakan waktu. Membaca tulisan Mba, say jaadi teringat tulisan2 di Pantau..

    Reply

  4. Ida Nasim MH
    Dec 24, 2007 @ 17:47:03

    Mulyani,
    Saya sangat senang banyak orang mau menulis tentang kasus penculikan aktifis di masa pemerintahan Soeharto. Tentu banyak aktifis demokrasi yang diculik pada saat itu. Kami, aktifis dari Partai Rakyat Demokratik hanyalah salah satu dari target penculikan aparat militer pemerintahan Soeharto saat itu.

    Tulisan seperti ini sangat berguna dan penting untuk PROSES BELAJAR bagi semua pihak, terutama bagi yang ingin memimpin negeri ini.

    Jika ada kesempatan, saya dengan senang hati untuk ngobrol-ngobrol. Untuk sementara ini saya masih berada di Papua. Mungkin awal Pebruari 2008, saya berada di Jakarta.
    Ini alamat e-mailku : merpatimerah@hotmail.com. Mungkin kita bisa berdiskusi.

    Melalui surat pendekku ini, saya sekaligus minta ijin, jika diperbolehkan alamat blogspotmu ini : http://www.mulyanihasan.wordpress.com, akan saya taruh di collegial blog-ku. Karena banyak tulisan-tulisan yang penting dan menarik buat saya.

    Sebelumnya, salam kenal ya… senang bisa ketemu di blogger.

    Melihat photomu, mukamu sudah “tidak asing” di kalangan teman-teman PRD dan aktifis NGO.

    Oh oya, saya juga melihat beberapa teman-temanku membuat link ke blogspot-mu. Karena itu saya juga mau??

    Terus berkarya,
    Fajar “Ida Nasim”
    25 Des 2007 di Papua

    Reply

  5. Iphoel
    Dec 25, 2007 @ 12:56:29

    Yani,
    Selamat yahh, kisah penculikan sudah banyak ditulis, tapi ditangan Yani serasa lebih hidup. Mungkin Yani seperti “Bapa” dalam Doa Bimpet, yang bisa menghidupkan.
    Huhuhu sister kita sedang sibuk dengan laptopnya, semoga dia segera pulih, dan bisa conference dengan kita.
    Kangen Bandung euy, jajanan, kopi di dago, atau dugem kecepatan versi Sister hahahahha.
    Ya sudah, aku tunggu tulisan-tulisan berikutnya

    Reply

  6. Yacob Yahya
    Dec 26, 2007 @ 04:27:14

    Bimo Petrus, teman kakak saya, Winuranto Adhi -kini kakak dan saya aktif di AJI Jakarta. Adik Bimpet, Ari Priambodo, kawan pergerakan saya di UGM. Ari kuliah di Fakultas Filsafat, sedangkan saya tetangganya di Fakultas Ekonomi. Terima kasih telah menulis artikel ini.

    Reply

  7. mulyanihasan
    Dec 31, 2007 @ 12:23:07

    Wuah senang sekali saya dapat respon dari kawan-kawan dan orang-orang terdekat Bimpet.
    Terimakasih untuk semua yang telah menyempatkan mata anda untuk melihat tulisan ini.

    Ini kebahagian luar biasa bagi saya (mungkin bagi banyak penulis).

    Terimakasih untuk semua…..

    Salam hangat

    -yani-

    Reply

  8. boim
    Jan 12, 2008 @ 19:36:53

    cuma singkat yang bisa aku bilang
    tulisanmu bagus banget

    ajarin aku ya……….

    Reply

  9. tebe
    Feb 02, 2008 @ 14:28:54

    aku tidak mau mencari bima…
    aku hanya mau mencarimu…
    cepat pulang..
    i miss u..

    aku kesepian… hiks..hiks..

    Reply

  10. arie
    Oct 02, 2009 @ 03:39:59

    2 oktober 2009…
    beberapa hari ini saya merenungkan kembali mereka yang dirampas haknya pasca persitiwa 30 sept 65. aku teringat bimpet…
    dia juga dirampas dari kami… keluarganya! pasca 30 maret 1998.
    mengapa sudah menjadi suatu kewajaran bagi bangsa ini dengan mudah melupakan?
    terus terang aku sakit hati melihat itu semua.
    dimanapun mas bimo berada aku yakin dia adalah orang baik.

    terimakasih bung… semoga mas bimo baik-baik saja dimanapun engkau berada.
    arie.

    Reply

  11. Lodzi Hady
    Jun 23, 2013 @ 17:34:51


    (dokumentasi pembacaan surat Bima pada peringatannya di Perpus Kota Malang), dihadiri oleh sejumlah aktivis, seniman dan kedua orang tuanya)
    Tuhan segera memberi titik cerah tentang keberadaannya dan keluarga diberikan kesabaran. Kita sebagai bagian dari entitas bangsa ini semoga pula mendapat pelajaran berharga.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: