Gadis Penyair, Anak Penyair

*) Mulyani Hasan

Mereka menunggu ayah, suami yang lenyap dimangsa penguasa. Sepuluh tahun, tak ada kepastian. Entah hidup atau mati, entah ada dimana. Perjalanan menuntut keadilan tak berujung, bahkan tidak berakhir dalam bentuk kepasrahan. Mereka menganggapnya masih hidup.

Dari ujung gang, rumah itu terang berderang. Lampu neon menjangkau tembok pembatas gang.  Sipon muncul pakai daster bunga-bunga dari dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar.  

“Monggo masuk,” ujarnya, tangan kanannya  menepis rambutnya yang ikal kemerahan.

Malam itu, rumah Sipon ramai dengan kelakar  tawa. Selain Sipon, ada dua perempuan lain di rumah itu. Putri sulungnya, Fitri Nganti Wani, seorang lainnya Hasti Dirgantarai, sahabat Sipon yang tinggal di rumah itu. Sedangkan Fajar Merah, anak bungsunya sedang di luar rumah.

“Kami baru saja menerima pengaduan warga yang tanahnya akan digusur,” ujar Hasti Dirgantari. Hasti Dirgantari, perempuan berusia 37 tahun.

Ia seorang advokat di sebuah Lembaga Bantuan Hukum di Solo. Pertemuannya dengan Sipon, ketika Sipon menghadapi kasus penggusuran tanah warga di tempat tinggalnya. Hasti sudah sering mendengar nama Sipon, terutama di harian Kompas. Sipon disebut-sebut sebagai perempuan pejuang yang mencari suami dan menghidupi anak-anaknya. Hasti sangat mengagumi Sipon.

“Saat Sipon ke kantor, saya ingin berkenalan, tapi tidak mau secara langsung,” kata Hasti, tersenyum malu.

Sejak saat itu, banyak kesempatan yang mempertemukan mereka. Hasti merasa sangat beruntung bisa kenal dekat dengan Sipon, istri Wiji Thukul, penyair yang sering dieluk-elukan pada saat dia kuliah di Universitas Satyawacana.

“Sipon itu lucu dan humoris, dia bisa mengalahkan pelawak-pelawak di televisi,” ujar Hasti.

Hasti mengenal Wiji Thukul dari Arief Budiman dan Ariel Haryanto, yang saat itu mengajar di Satyawacana tahun 1992. Dia belum pernah bertemu dengan penyair itu, tapi beberapa kali dalam aksi penggalangan dana, Hasti membacakan puisi karya Wiji Thukul.  

“Ya, seumur hidup saya memang tak akan lepas dari Thukul. Setiap saat saya harus menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan suami saya itu. Termasuk menerima pertanyaan-pertanyaan anda,” ujar Sipon kepada saya. 

Lantai pelur di rumahnya terasa dingin.  Segelas teh hangat mengusir dahaga yang meradang sejak siang tadi. 

“Ada yang bilang, suami saya masih hidup, ada juga yang bilang ia sudah mati.”“Ini memang disengaja, agar kami menjadi bingung. Sehingga menjadi gila,” Sipon mengoceh.

“Tujuan mereka kan membuat kami gila, agar tak bisa bersaksi.”

Fitri Nganti Wani, anak sulung Sipon sedang asyik main game di depan laptop. Dia tak menghiraukan suara bising dari  ruang tamu. Saya dipersilahkan masuk ke kamar Wani.  Senyumnya lebar, tangan kanannya tak lepas dari keybord laptop.

Wani baru saja masuk kuliah di Universitas Sanata Dharma,Yogjakarta,  Jurusan Sastra Indonesia. Urusan sastra Indonesia, tentu menyebut-nyebut  Wiji Thukul, penyair yang mendapat Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra, tahun 1999, sebuah penghargaan prestisius bagi penyair. Ia juga dapat penghargaan Yap Thiam Hien Award, tahun 2002.

Wani sudah bisa menduga, keberadannya di kampus itu, pasti akan disangkut pautkan dengan popularitas ayahnya. Ia tak menginginkan itu terjadi, ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri secara utuh.  Wani memperkenalkan dirinya sebagai “Fitri” kepada teman-teman kuliahnya, padahal selama ini ia akrab dengan panggilan “Wani”.

Tapi, dalam sebuah kuliah sastra, seorang dosen menyinggung Wiji Thukul,

“Sastra menurut Wiji Thukul adalah alat untuk melawan rezim orde baru,”kata dosen itu.Wani duduk di barisan belakang, mendengarkan dengan seksama. “Nah, kebetulan anak Wiji Thukul ada di tengah-tengah kita,” lanjut sang dosen.

“Oups, penyamaran gagal,” gumam Wani.Konsentrasi mahasiswa tertuju ke belakang.

Semua mata menukik tertuju ke Wani. Wani malah pura-pura tak tahu dan ikut-ikutan menengok ke belakang. Sontak mereka kaget, anak seorang penyair terkenal ada di sana. Seperti selebritis di tengah-tengah penggemar, Wani meladeni pertanyaan-pertanyaan teman-teman kuliahnya. Sejak saat itu, Wani jadi tersohor di kampusnya.

“Eh aku gak nyangka sekelas dengan anaknya Wiji Thukul, aku kan penggemar bapakmu,” ujar Yoshua, teman sekelas Wani. 

“Wiji Thukul itu siapa sih?” teman lain bernama Nora menimpal.

“Eh, orang itu kan terkenal banget, kamu gak pantas masuk sastra. Masa gak tahu Wiji Thukul? Please deh,” seloroh Yoshua.

Wani tertawa geli, tak menyangka ayahnya sepopuler itu.  “Kalau bapakku tak hilang, dia biasa saja. Banyak yang lebih pintar, tapi tidak melakukan hal yang nyata, tidak seperti bapakku,” kata Wani kepada teman-temannya.

“Bapak hanya punya keberanian,” tegasnya.

Tidak hanya tersohor di kampus, beban menjadi anak Wiji Thukul juga dirasakan Wani, ketika gadis itu dituntut harus menjadi nomor satu di kelasnya. Jika nilai salah satu mata kuliah, buruk, teman-temannya menyalahkan Wani.

“Kamu kan anak Wiji Thukul, masa nilainya jelek?”

 “Ah mungkin bapakku juga tak bisa mengerjakan karena dia gak kuliah,” jawab Wani.

Gadis muda itu terkadang tak ingin menjadi pintar.  Dia tak ingin diperlakukan khusus oleh dosen dan teman-temannya. Dia ingin seperti yang lain.

“Aku adalah aku.”

“Bapak itu sebagai diri sendiri, membela dirinya sendiri,” ujar Wani, agaknya dia punya kekecewaan.

 Wiji Thukul begitu dekat dengan kehidupan Wani. Dimana-mana ada. Di kampus, di rumah, Wani tak lepas dari figur bapaknya.Menurut Wani, Rahmanto salah satu dosennya sering menyebut bapaknya dengan awalan atau akhiran “almarhum,” gelar  bagi orang yang sudah meninggal dunia.

Wani tidak suka. Saat kesekian kalinya Rahmanto mengulang sebutan almarhum bagi Wiji Thukul, Wani protes.

“Kayaknya belum almarhum, Pak,” teriak Wani dari sudut kelas.

“Oh, rupanya anaknya Wiji Thukul masih berharap bapaknya hidup,” ujar dosen itu.

Wani mengelak, acuh. Ia tak ingin larut dalam persoalan bapaknya. Orang-orang bilang bapaknya masih hidup, karena tak pernah ketemu mayatnya, banyak juga yang bilang bapaknya itu sudah mati.

Gadis itu menyimpan marah, “kok tak adil.  Ibu kerja, bapak tak ada,” ungkapnya.

“Dia kan kepala keluarga, kok tak bertanggungjawab.”

Wani bahkan tak tahu latar belakang kehidupan politik bapaknya. Menurut Wani, ia pernah dilarang oleh ibunya masuk dalam sebuah organisasi mahasiswa. Ibunya berpendapat, gara-gara organisasi itulah Wiji Thukul hilang.

Wani yang lahir pada  6 Mei 1989 di Solo, mulai menyadari bahwa bapaknya bukan orang biasa, yang meninggalkan istri dan anak. Kesadaran itu muncul belakangan, setelah dia tahu ayahnya bukan hanya seorang penyair. Tapi gadis ini tak tertarik dengan isu politik, dia hanya suka sastra dan menikmati kehidupannya yang sekarang. Salah satu penyair idolanya adalah Wiji Thukul, bapaknya sendiri.

“Aku suka puisinya, bukan orangnya,” katanya.

Beberapa puisi karyanya, ada yang mirip dengan puisi Wiji Thukul, padahal Wani belum pernah membacanya. Dia justru tahu dari ibunya.

“Cita-citaku hanya ingin menjadi orang baik. Setidaknya baik untuk diri sendiri,” ujar gadis muda ini.

***

“Mbak, menjahit ya?”,tanyaku.

“Ya, kalau tidak begini, anak-anak gak sekolah,” jawab Sipon, dialek Jawanya sangat  pekat.

“Tapi, saya merasa Thukul masih menafkahi saya dengan puisi-puisinya. Saya kan bisa jual kaos yang bertuliskan puisi Thukul.”  Sipon mengendalikan alur percakapan.

Ia terlihat ingin berbagi atas apa-apa yang menimpanya. Tak mudah memang menjalani hidup sebagai perempuan seperti dia. Stigma janda yang melekat di masyarakat umum, belum lagi cap komunis yang dipandang buruk oleh mayoritas masyarakat akibat propaganda orde baru. Menyandang label komunis, sungguh malapetaka di negeri ini.

Anak ke duanya Fajar Merah, berusia 15 tahun, kelas 2 Sekolah Menengah Pertama.  Ia pernah berniat mengganti nama. Ia merasa tak beruntung dikenal sebagai anak Wiji Thukul karena teman-teman sekolahnya juga tak banyak.  

Malam itu Fajar tak di rumah. Sipon resah, belakangan ini Fajar jarang betah di rumah.

“Kenapa jadi anak Thukul?”

“Kenapa mirip Thukul?”

“Salah apa sih? Kenapa banyak orang tidak suka?,” pertanyaan itu keluar dari mulut Fajar.

Sipon selalu berusaha memberinya pengertian dengan penuh kesabaran.Fajar sering mengeluh kepada ibunya. Di sekolahnya dia merasa dimanfaatkan oleh teman-temannya. Kelompok sepak bola yang baru saja dia bentuk, bubar. Teman-temannya meninggalkannya, padahal pada awal pembentukan, Fajar ditekan oleh teman-teman agar segera berinisiatif membentuk tim sepak bola. Lalu dia membentuk kelompok musik. Nasibnya juga sama, bubar.

“Lebaran lalu, dia tak mau di rumah. Dia shock, ingin seperti teman-temannya yang punya keluarga utuh. Dia ingin punya ibu seperti yang lain, di rumah dan memasak,” kata Sipon, mimik mukanya resah.

Sipon banyak bicara dengan Wani dalam menghadapi Fajar. Tapi Sipon enggan berbagi sedih. Dalam hal ini Wani mengganggap ibunya seorang yang misterius, tak dapat ditebak apa yang sedang dia rasakan.Sipon merampas  lagi konsentrasiku. Sorot matanya hambar menerawang.

“Setiap tahun di bulan Juni, aku seperti trauma.  Badanku gemetar. Siang malam tak bisa tidur, langkah-langkah itu” Sipon mengisahkan kejadian itu.

Suatu malam penghujung Juni 1996, Thukul datang dengan luka lebam di mata kanan, retinanya mengelupas. Terhuyun pulang ke rumah. Ia hanya menjawab ala kadarnya, ketika Sipon bertanya apa yang menimpa dirinya. Malam itu Thukul emosional. Anak sulungnya, Wani dipukul, padahal seingat Sipon, tak pernah dia melakukan itu sebelumnya.

Belakangan, setelah pulang dari rumah sakit,dia baru cerita kepada istrinya, bahwa sekelompok orang memukulnya lalu membenturkan kepalanya ke Jeep. Kejadian itu sesaat setelah dia memimpin unjuk rasa buruh di PT. Sritex Surabaya.Thukul tak juga jera.

Dia terus melakukan protes melalui puisi-puisinya. Dia membaca puisi di bis, di pabrik, di jalan, di gang-gang sempit bahkan di resepsi pernikahan.  Tapi, dia pernah menolak, ketika diundang membacakan puisi di Taman Budaya Surakarta dalam rangka memperingati hari ulang tahun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, pada 1 Oktober 1995.

Thukul enggan berpartisipasi, karena saat itu tentara dan polisi banyak melakukan tindakan represif. Diskusi, pembacaan puisi, teater, pameran seni rupa, dibubarkan oleh aparat. Terakhir sebelum dia menerima undangan itu, Teater Buruh Indonesia dilarang pentas. Thukul geram.

“Adalah tindakan yang tidak adil kalau kita bernyanyi dan bersuka cita, jika sementara pada saat yang sama di sekeliling kita orang-orang dibungkam, dilarang bersuara,” ungkap Thukul dalam surat  pernyataan sikapnya.

Dalam surat itu dia berseru kepada pengelola Taman Budaya Surakarta, agar memperjuangkan dan merebut kembali otonomi sebagai kawasan merdeka bagi para pekerja kebudayaan.

“Kepada para pekerja kebudayaan, bersatulah! Rebut kemerdekaan berekspresi!” kata Thukul.

“Kepada militer, hentikan intervensi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat sipil dan cabut Undang-Undang politik dan tolak politik perijinan.”

Wiji Thukul, tak menyembunyikan perlawanannya. Meski berkali-kali diteror dan diancam. Masa-masa itu pemerintah orde baru tak segan menculik atau membenamkan gerakan para pemberontak yang mengancam tahtanya.Malam itu, 5 Agustus 1996 rumah kontrakannya didatangi oleh kepolisian wilayah Surakarta.

Mereka menyita buku-buku dan sejumlah dokumen milik Thukul. Tuduhan  mereka, Thukul telah melakukan tindakan subversif. Barang yang disita, di antaranya, kumpulan puisi “Mencari Tanah Lapang,” stiker “ini rumah demokrasi,”dan lain-lain. Ada enam berkas lainnya yang disita.

Situasi belum tenang, tentara juga berdatangan ke rumah Thukul. Menggerebek, tak beretika. Sejak saat itu Sipon jarang menerima kepulangan suaminya itu.

“Semua ada di pihak polisi, termasuk wartawan,” keluh Sipon. 

Seminggu berlalu, Thukul pulang. Dia mendekam di kamar, tak keluar sedikit pun, meski hanya untuk membeli rokok. Sipon mengurus semua kebutuhan suaminya, hingga harus membuang kotorannya. Lalu dia pamit, katanya dia akan pergi ke Kalimantan.

 Penghujung 1997, Sipon mengajak kedua anaknya ke Kebon Binatang Gembiraloka,Yogyakarta, sebagai hadiah ulang tahun untuk Fajar, yang jatuh pada 23 Desember 1993. Tapi seketika, Sipon mengubah rencana dengan persetujuan kedua anaknya. Mereka memutuskan pergi ke Kaliurang. Ketika sedang mereguk teh, Wiji Thukul muncul tiba-tiba.

Anehnya, Thukul, seperti tergesa-gesa, di belakangnya ada beberapa orang yang tak dikenal Sipon.

“Saya kira mereka itu tentara, saya bisa melihat dari gaya dan gerak geriknya,”kata Sipon.

“Saya pikir, ngapain orang gila ini ada di sini,” ujar Sipon, Lalu Thukul membelikan Fajar  mobil-mobilan warna merah.

“Kamu calon konglomerat ya, Kamu harus rajin belajar dan membaca, jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak mendapat pendidikan,” kata Thukul, berpesan kepada anak bungsunya.

Pertemuan itu sangat singkat, belum sempat Sipon melepas rindu. Tapi Sipon sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Thukul membeli tiga tiket kereta untuk anak dan isterinya.  Itulah pertemuan terakhirnya, Hingga saat ini, Thukul tak pernah kembali. Sepuluh tahun sudah.

***

Malam itu di langit Solo, purnama sempurna, sinarnya redup menantang malam. Wani rindu saat-saat naik sepeda dibonceng bapaknya nonton kereta api yang lewat. Sementara Sipon sedang di kamar merayu Fajar yang baru saja tiba di rumah. [end]

*) Dimuat di situs www.vhrmedia.com dengan judul Melepas Bayang-Bayang Bapak

6 Comments (+add yours?)

  1. bangjay264
    Jan 16, 2008 @ 06:37:25

    Hmmmm……..terharu banget kisah ini, setelah gue baca meresap dalam perasaan ini, kasihan dengan berbagai beban keluarga itu dan mungkinkah dapat bertemu kebali ?….moga tuhan dapat mempertemukannya kembali dikala masih hidup.

    salam kenal dari gue :
    bangjay264

    Reply

  2. jgbua_transtv
    Feb 13, 2008 @ 15:14:30

    luar biasa. doa tahlil untuk tukul. hanya satu kata: lawan!

    Reply

  3. The Bitch
    May 16, 2008 @ 04:57:00

    nice one!
    btw, pak Rahmanto itu emang nggatheli tenan. sotoy luar biasa. sering tak kerjain koq dulu pas kuliah bahasa endonesa.

    ganbatte, wani. jangan takut jadi diri sendiri. makasih, mbak mul. tulisannya enlightening banget.

    (=

    Reply

  4. Yo
    Jun 04, 2008 @ 09:52:57

    tulisan yang menarik…

    Reply

  5. baim
    Jul 09, 2008 @ 16:00:14

    Aku berfikir, bagaimana kalau aku diposisi Wani dan Fajar.
    Mungkin untuk orang lain itu sesuatu yang mengagumkan bila memiliki Ayah seperti Thukul.
    Tapi terkadang bila ada dalam posisi Wani dan Fajar, belum tentu seperti itu rasanya.
    Walau begitu aku yakin mereka pasti bangga punya Ayah seperti Thukul.

    Disini atau disana, entah dimana Thukul berada sekarang perjuanganmu belum tuntas kawan…
    Walau bukan dirimu yang berdiri kokoh menatap para penguasa, tapi ada kami disini untuk melanjutkannya…
    Kawan bila memang jantungmu masih berdetak, pulanglah dan berjuang bersama kami…
    Namun bila memang dirimu sudah tak ada lagi, izinkan kami dengan semangat membara dalam dirimu, berjuang demi Negri ini…

    Reply

  6. koelit ketjil
    Jun 15, 2009 @ 08:00:49

    mungkin bapaknya Fitri n Fajar diculik oleh MOmok Hiyong!
    momok hiyong balikin bapaknya Fitri n Fajar!!!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: