Berita Detik.com Tak Berimbang

Oleh Mulyani Hasan

Membaca berita Detik.com, sekilas tampak tidak menyimpan persoalan. Berikut ini beritanya:

Ketua Papernas Nyebrang ke PBR
Laurencius Simanjuntak – detikNews

Jakarta – Fenomena ‘ganti baju’, tampaknya sudah menjadi hal yang lumrah menjelang Pemilu 2009. Hal ini pun dilakukan Ketua Majelis Partai Pertimbangan Partai Persatuan Nasional (Papernas), Dita Indah Sari bersama sejumlah rekan separtainya yang merapat ke PBR.

“Saya sudah menjadi anggota PBR, dan saya sudah mengajukan diri jadi caleg. Sementara teman-teman saya, bukan Papernas secara institusi, tetapi personal, sekitar 40 orang,” ujar mantan aktivis mahasiswa tahun 90-an ini yang dijumpai wartawan seusai menghadiri Launching Nomor Urut PBR di kantor DPP PBR, Jl KH Abdullah Syafii, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (2/8/2008).

Hal tersebut dilakukan Dita karena lewat partainya, yang bukan partai peserta Pemilu, aspirasi politiknya tidak bisa disampaikan. “Saya sudah coba buat partai, Papernas itu. Tapi kita banyak hambatan, yang sifatnya fisik, bahkan kekerasan di berbagai tempat, ujar wanita yang bekas partainya juga tidak diverifikasi KPU ini.

Dita mengatakan, meski telah berpindah rumah, tidak ada partai yang benar-benar bersih. Dia pindah karena ingin aspirasi politiknya tersalurkan.

“Cari yang terbaik dari yang terburuk,” tandasnya.

Massa Papernas pernah terlibat bentrok fisik dengan FPI dan Front Betawi Rempug pada 29 Maret 2007. Papernas dinilai berhaluan kiri dan membawa nilai-nilai komunis oleh FPI.(lrn/gah)

Saya tak akan mempersoalkan penggunaan singkatan-singkatan dalam berita itu, meski dalam jurnalisme seharusnya menggunakan kata sejelas-jelasnya. Ada yang lebih penting dari itu. Baca kalimat di bawah ini, penggalan terakhir dari berita itu.

Massa Papernas pernah terlibat bentrok fisik dengan FPI dan Front Betawi Rempug pada 29 Maret 2007. Papernas dinilai berhaluan kiri dan membawa nilai-nilai komunis oleh FPI

Peristiwa 29 Maret 2007 itu bukan bentrokan, tapi penyerangan Front Pembela Islam terhadap massa Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas) yang ketika itu akan rapat akbar menolak pengesahan Undang-Undang Penanaman Modal Asing.

Bedakan antara “bentrok” dengan “penyerangan”.  Bentrok terjadi ketika semua pihak saling menyerang. Dalam peristiwa itu FPI yang menyerang Papernas.

Detik.com juga tidak maksimal dalam menyajikan informasi. Tidak salah memang, tapi media hendaknya juga berfungsi mencerdaskan. Kata “kiri” dan “komunis” tidak diberi penjelasan dalam berita itu. Detik.com hanya menginformasikan kedua kata itu berdasarkan penilaian FPI. Itu berarti tidak berimbang. Berikut penggalan beritanya:

Papernas dinilai berhaluan kiri dan membawa nilai-nilai komunis oleh FPI

Lantas, apa itu “kiri” dan “komunis”?  Detik.com tidak menjelaskannya, atau barangkali sedang termakan oleh propaganda “anti komunis” tanpa memahami apa dan bagaimana itu komunis.

Merujuk pada artikel Samsir Mohamad (www.rumahkiri.net), di Amerika, yang disebut kiri atau left berarti “The individuals and group who advocate the adoption of sometimes extreme messure in order to achieve the equality, freedom, and well-being of the citizens of a state”. (Perorangan atau kelompok yang membenarkan dipakainya sewaktu-waktu tindakan ekstrim untuk mencapai persamaan, kemerdekaan, dan kesejahteraan warga negara dari suatu negara). Berarti juga “the opinion of those advocating such messures as opposed to conservative opinion”. Jadi ringkasnya “kiri” itu kebalikan dari “konservatif”. Dia menghendaki perubahan.

Sedangkan komunisme, sebuah paham yang membatasi kepemilikan modal atas individu. Dalam konteks itu, berulangkali media massa menjadi alat kekuasaan untuk menghantam gerakan itu, ikut-ikutan mendzalimi.

Media massa bersifat hegemonik, dia seperti kekuasaan yang memaksa pembacanya patuh. Dia seperti kebenaran yang tak terelakan. Seperti kata Antonio Gramsci, pada saat itu, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Begitulah yang dimaksud dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan moral dan intelektual” secara konsensional menurut Gramsci.

Tentu saja Detik.com tidak sendirian, cermati berita-berita soal unjukrasa mahasiswa menolak kenaikan bahan bakar minyak. “Mahasiswa bentrok dengan polisi” bagaimana itu bisa dikatakan bentrok? Jelas-jelas polisi menangkap dan menyerbu  kampus.

Atau media massa memberitakan; Polisi Mengamankan Mahasiswa.

Orang ditangkap, bukan diamankan.

Dampaknya sangat kentara. Banyak orang mengecam tindakan mahasiswa. Dari kalangan intelektual hingga masyarakat awam ramai-ramai menyalahkan mahasiswa.

Kebenaran dalam media massa terletak pada prosedur. Salah satu prosedur jurnalisme adalah verifikasi. Banyak jurnalis yang tak paham inti dari verifikasi itu. Misal, mengapa mahasiswa berunjukrasa? Atau mengapa paham kiri sangat dibenci dan selalu dihantam bertubi-tubi?

Verifikasi tak cukup hanya dengan mewawancarai pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah persoalan. Verifikasi harus juga menyangkut sebab dan mengapa peristiwa itu bisa terjadi.

Mulyani Hasan, tim kerja Mediabersama.com

7 Comments (+add yours?)

  1. melly
    Aug 27, 2008 @ 02:32:00

    suka tulisan ini yan.
    yuk ngupi2 lagi

    Reply

  2. anggara
    Aug 27, 2008 @ 07:32:01

    saya pikir, pernyataan kiri dan komunis itu kan penilaian dari FPI, dan pernyataan itu menurut saya tidak menyamakan pengertian kiri dan komunis “…berhaluan kiri dan membawa nilai-nilai komunis…” apakah itu menyamakan pengertian? menurut saya koq tidak yaa

    Reply

  3. nalar anarki
    Sep 05, 2008 @ 16:55:41

    kalau kelakuannya di jaman ini lebih kejam daripada komunis lantas kita namakan apa dong?

    Reply

  4. akbar
    Sep 08, 2008 @ 00:26:49

    Ooh, detik…🙂 yeah, maklumi aja.

    Reply

  5. beritania
    Sep 09, 2008 @ 06:40:14

    guwe setuju ma tulisan loe. Emag pers kadang bisa berbuat salah, maklum terkadang mereka hanya mendengar dari satu telinga aja. Kalo masalah detik, yaaah…aku pun sering mengalaminya:D tapi it’s okey-lah, mungkin lagee khilaf hehe

    Reply

  6. adianfuadi
    Sep 22, 2008 @ 18:16:09

    politik lompat pagar biasa itu mbak…mungkin karir di a di situ redup jadi cari tempat terang

    kiri = komunis=sosialis……komunis indentik dengan menghalalkan segala cara
    mungkin lebih enak di dengar mereka di bilang sosialis aja🙂

    Reply

  7. nengelly
    Nov 27, 2008 @ 13:01:52

    wartawan ada hilapnya kok…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: