Menjauhkan Perempuan dari Tanah

Jauh sebelum hari ini, sebelum ada iklan krim kulit anti pecah-pecah pada kaki, saya tak bermasalah dengan tumit yang lebih mirip akar pohon. Saya percaya diri. Juga dengan bulu-bulu di betis saya yang bergelombang dan menutupi kulit.

Kini saya jadi risau semenjak ada iklan di televisi mempermasalahkan tumit pecah-pecah dan menganggap perempuan dengan bulu di betis tidak menarik. Ini menambah daftar spesifikasi perempuan menarik dan tentunya menambah barisan angka di kolom belanjaan. Krim perontok bulu. Terdengar aneh, bukan? Sama anehnya seperti krim anti penuaan dini. Barangkali tak lama lagi ada krim penghambat kuku.

Secara naluriah, saya kira,  perempuan dalam segala keterbatasannya berupaya tampil menarik. Tapi televisi dan perangkat-perangkat gaya hidup modern telah memaksa perempuan untuk melawan keniscayaan. Melawan proses alam.

Seorang peneliti, Roem Topatimasang suatu hari dengan cermat memerhatikan iklan televisi seharian penuh. Kesimpulannya, 60% iklan-iklan itu mengenai kecantikan dan perangkat penunjang penampilan perempuan. Dari semua itu, para bintang iklan adalah perempuan dan laki-laki dengan postur tinggi, langsing, dan berkulit terang putih atau kuning. Perempuan cantik itu berkulit terang, yang gelap harus dibikin terang dengan krim pemutih. Roem menamainya dengan istilah Belanda, minderwarhardeig complex, asal kata “minder”. Perasaan tidak percaya diri terhadap bangsa bekas penjajahnya. Secara diam-diam mereka memuja dan meniru apa yang ada dan dilakukan oleh bangsa bekas penjajahnya. Roem menulisnya dalam essai berjudul Menjadi Diri Sendiri.

Melompat lebih jauh dari sekadar mempercantik diri, perusahaan-perusahaan farmasi dan kecantikan membuat obat-obat anti penuaan. Perempuan melalui iklan-iklan diajak untuk melawan usia tua, tahapan hidup alamiah manusia. Seperti halnya kematian, menjadi tua tidak bisa dihindari sebagaimana ketidakmampuan mengontrol tumbuhnya bulu-bulu. Menghindari usia tua adalah usaha menyusahkan diri. Tapi, sebagian perempuan menghabiskan uang dan hidupnya demi ilusi awet muda itu.

Menjadi tua pada diri perempuan memang berbeda dengan pengalaman laki-laki. Perempuan tua dalam layar kaca banyak digunakan sebagai tokoh antagonis, semacam nenek sihir. Belum ada tokoh antagonis, kakek sihir. Coba perhatikan, siapa yang paling jahat dalam cerita-cerita sinetron. Perempuan. Laki-laki tua biasanya mewakili manusia bijaksana.

Keadaan lain ada di pelosok desa. Ibarat berbeda alam, lebih banyak perempuan desa mencurahkan segenap waktunya untuk kehidupan. Untuk keluarga, tanaman, dan ternak. Mereka menghidupkan yang belum hidup, memelihara yang sedang tumbuh.

Di desa-desa di Tompobulu, Pangkep, para perempuan bertani, berdagang, menantang matahari. Yang bertani bekerja dari pagi hingga matahari siang.Tanpa alas kaki, apalagi sunblock. Tubuh mereka terlihat fit dan kekar. Tumpukan lemak nyempil sekadarnya. Para pedagang menyongsong matahari dan debu. Mereka menerima matahari sebagai berkah.

Sedangkan sebagian besar perempuan urban memperlakukan matahari sebagai musuh bagi kulit. Dia bisa menggelapkan kulit dan menyebabkan kanker kulit, kata iklan-iklan.

Tak terkira banyaknya petani yang terserang kanker kulit andai betul sinar matahari penyebab utamanya. Saya bukan ahli kulit, tapi itu tak terjadi berdasarkan pengalaman orang-orang yang setiap hari bekerja di bawah terik matahari. Entahlah, di tempat dan waktu berbeda. Zaman perbudakan contoh nyata, di mana para budak berladang di bawah terik matahari, tanpa baju di tanah tandus. Dari keringat mereka, tuan dan puan bisa makan.

Sambil digempur dengan iklan krim-krim pemutih, secara sistematis, kaum urban dijauhkan dari alam. Dari berangkat kerja hingga selesai bekerja, mereka berjalan dan duduk dari ruangan ke ruangan. Dari kendaraan satu ke kendaraan lain. Buruh-buruh pabrik hampir tak melihat matahari. Mereka terbiasa dengan lampu dan pendingin ruangan, siang maupun malam. Pengecualian pekerja non formal, seperti pedagang kaki lima dan pemulung.

Seperti kata pakar geografi, David Harvey dalam The Right to The City, kota-kota lahir melalui pemusatan surplus produk secara geografis dan sosial. Urbanisasi merupakan fenomena di mana surplus-surplus diperas dari tempat dan jumlah orang tertentu. Sementara kekayaan yang dihasilkannya dikontrol oleh segelintir orang. Dengan kata lain, urbanisasi bukan semata-mata pilihan tapi keterpaksaan yang sengaja diciptakan untuk surplus itu.

Modernisasi salah satu cara pemaksaan tersebut. Perempuan desa bermimpi ke kota. Para gadis kota tergerus ilusi. Begitu mudahnya para gadis mengimani iklan. “Anak muda harus bermimpi setinggi-tingginya,” kata artis muda Agnes Monica. Mimpi menjadi dasar pijakan. Kenyataan diabaikan. Mimpi itu adalah menjadi bintang panggung, dibuntuti kamera, dan berlimpah uang. Jangan heran melihat ribuan anak muda mengikuti kontes bernyanyi. Gadis-gadis berupaya sejadi-jadinya untuk memenangkan kontes kecantikan.

Masa depan bukan lagi ada di desa. Seperti sindiran Pramoedya Antata Toer, semakin dekat sebuah pekerjaan dengan tanah, semakin hina pekerjaan itu. Menjadi petani tidak ada di alam-alam mimpi. Bertani hanyalah kenyataan yang harus diingkari sebagian orang yang hidup dalam ilusi modernitas.

Dengan demikian, perusahahaan-perusahaan multinasional yang dikontrol oleh beberapa orang saja leluasa menguasai sumber pangan dunia. Sementara kita makin tergantung kepada mereka. Orang kota bahkan membeli bubur instan untuk makanan bayi mereka. []

Dimuat di Koran Tempo Makassar, 18 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: