Nur Halimah

Apa yang dipikirkan laki-laki itu saat ditolak cintanya? Cinta dari seorang perempuan bernama Nur Halimah yang baru saja tewas di tangannya.

Hari dia meninggal, 9 Oktober dua bulan lalu, di pagi buta.

Nur Halimah anak seorang petani miskin dari sebuah desa di Malino. Dia bekerja sambil  kuliah pascasarjana di Universitas Negeri Makassar, jurusan Sosiologi. Bicaranya tak banyak, tapi raut mukanya menandakan Ia seorang yang tegar. Orang tak perlu berpikir keras untuk menyukainya.

Saya kenal dia dari seorang sahabat dimana Nur Halimah tinggal selama menyelesaikan sarjananya. Satu tahun terakhir ini Ima pindah ke tempat barunya. Dia bekerja di sebuah laundry sekaligus tempat tinggalnya sementara, tak jauh dari kampus tempat dia belajar.

Kabar buruk mengenai tragedi Ima bermunculan di media massa.  Saya memastikan ke beberapa orang bahwa itu benar-benar Ima, si Gadis ceria yang senyumnya tak gampang terlupakan. Saya mengingat-ingat kembali peristiwa-peristiwa yang saya alami dengannya. Dia tidak betah melihat ketidakadilan. Lantang  bicara di usianya yang mungkin belum sampai 25. Dia Aktif menghadiri forum-forum diskusi dan terlibat di gerakan Perempuan Mahardika, sebuah organisasi progresif pembela hak perempuan. 

Selang 8 jam,polisi menangkap pembunuh yang kabur ke kampungnya, Pare-pare. Usianya 18 tahun. Menurut saksi yang juga teman Ima, jauh hari sebelum peristiwa ini terjadi Ima sering tak nyaman setiap kali teman kerjanya itu datang.  Laki-laki itu menyukai Ima sejak awal. 

Kepada polisi, si pemuda mengakui kejahatan dan alasan perbuatannya. Katanya, sebab ia membunuh karena tersinggung oleh Ima yang menolak cintanya.

Pemuda itu berinisial AS. Dia barangkali telah diselubungi pikiran gelap. Hasrat terhadap Ima tak mampu dia bendung lagi, mengalir bersama hasrat persaingan menaklukan kerasnya hidup. Bekerja di laundry, jasa pencucian pakaian bukan pilihan. Di kota-kota besar di Indonesia, laundry dikelola oleh perorangan. Gaji karyawannya, paling tinggi setara dengan upah minimum kota. Itupun kalau si bos sadar aturan pengupahan. Gaji sedikit, pergaulan minim.

Si pemuda itu menjadi salah seorang dari sekian banyak banyak orang-orang kalah. Lahir dari keluarga miskin. Ia  tak mampu menerobos pendidikan tinggi yang setidaknya akan membuka peluang pergaulan, selain pengetahuan. Hanya jika beruntung, ia bisa mendapat cinta dari perempuan macam Ima.

Saya tidak hendak menyimpulkan bahwa kemiskinan berbanding lurus dengan ide penguasaan terhadap perempuan. Di kelas menengah dan borjuis pun, kekerasan dan pelecehan sama gawatnya. Beruntungnya, orang-orang kelas menengah punya banyak pilihan untuk mengaktualisasikan dirinya dan memperlakukan hasratnya. Kelas menengah perempuan juga sedikit beruntung dimana perlindungan formal maupun informal bisa mudah diakses. Di dunia dimana uang menjadi penentu segalanya, orang-orang miskin paling rentan terhadap apapun. Oleh sebab itu, penyelenggara negara harus melindungi.

Di Indonesia, beberapa peraturan formal justru ikut memperkokoh dominasi terhadap perempuan.  Ada yang sudah disyahkan dan belum. Di antaranya, wajib berjilbab, tes keperawanan, ada pula larangan duduk ngangkang bagi perempuan. Dengan ini negara menyetuji bahwa perempuan lah yang bersalah atas kekerasan seksual yang menimpanya. Perempuan harus menutupi seluruh tubuhnya kalau tidak mau diperkosa. Perempuan harus tunduk pada suami, kalau tidak ingin disiksa. Perempuan harus bertutur santun, jika tak ingin dianiaya. Perempuan harus menjaga nama baik suami, tabah dan setia pada laki-laki jenis apapun. 

Sementara aturan-aturan  itu menjadi wacana, korban terus meningkat. Komisi Nasional Perempuan mencatat dalam waktu 13 tahun terakhir kasus kekerasan seksual berjumlah hampir seperempat dari seluruh total kasus kekerasan, atau 93.960 kasus.

Kekerasan terhadap perempuan dilatarbelakangi ide penguasaan terhadap perempuan. Ide itu sudah mendarah daging di berbagai kelas masyarakat. Di kelas pekerja, perempuan diupah lebih rendah, pun dalam mendapatkan warisan. Di kelas menengah urban, perempuan menikah menanggalkan namanya, diganti dengan nama suami. Ibu Rudi, Ibu Slamet, dan sebagainya. Belum lagi masalah beban pekerjaan yang menekan kaum perempuan.

Menurut Mansour Faqih dalam bukunya Analisis Gender dan  Transformasi Sosial merujuk pada keterangan Friedrich Engels bahwa terpuruknya perempuan bukan disebabkan oleh perubahan teknologi tapi karena perubahan dalam organisasi kekayaan. Munculnya era hewan ternak dan pertanian menetap awal terciptanya surplus. Masa itu muncul private property yang menjadi dasar perdagangan. Laki-laki menguasai perdagangan, mendominasi hubungan sosial dan politik. Perempuan kemudian direduksi menjadi bagian dari proverty. Konsep kepemilikan pribadi mensaratkan masyarakat yang individualis. Demikian pula tindak kekerasan dalam rumahtangga didomestifikasi, jadi urusan keluarga. Sebelumya, di masyarakat komunal, selain pembagian kerja, perselisihan dan tindak kekerasan menjadi urusan bersama.

Pagi, beberapa saat sebelum Ima dibunuh, beberapa orang yang bersaksi di kantor polisi melihat Ima dikejar-kejar di dalam ruang tempat kerjanya. Tempat itu berada di kawasan padat penduduk. Dan dalam berita-berita yang hinggap ke meja saya, Ima bukan diperkosa, tapi “digagahi” ada pula yang menulis “korban kelaki-lakian.” Memperkosa dianggap gagah dan sebuah kewajaran laki-laki. Mengerikan. []

 Artikel ini terbit di rubrik literasi Koran Tempo Makassar, Sabtu 14 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: